Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 15 Agustus 2010 – Oleh Pdt. Frans Z. Assa

Yakobus 3:9 - Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah.

Ada dua sisi yang bisa kita temukan di ayat ini yaitu: dengan lidah kita bisa memuji Tuhan tetapi dengan lidah yang sama bisa meracuni, merusak, mengutuk. Lidah mempunyai peran dalam:

1. Membangun hubungan dengan Allah.

Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita. Memuji = eulogeō - bahasa Yunani yang artinya kapan saja, di mana saja, dalam kondisi apa saja orang ini akan bercerita Tuhan itu baik; bukan hanya pada waktu senang, berhasil, tetapi juga pada waktu sedang kecewa, luka batin. Contoh ketika lidah digunakan kemudian membangun hubungan dengan Allah:

Mazmur 103:1, ada dua hal yang Daud katakan:

- Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Jiwa berbicara tentang pikiran (= kardia - bahasa Yunani); pikiran untuk mengambil keputusan berkaitan dengan logika; logis atau tidak logis, masuk akal atau tidak masuk akal pujilah Tuhan.

- Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Batin berbicara tentang hati, manusia batiniah, rohaniah kita (= suneidesis - bahasa Yunani); pikiran untuk mengambil keputusan yang bersifat etis/moral.

Mazmur 103:2 - Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya. Secara kardia (IQ) kita memang bisa mengambil pilihan keputusan tidak masuk akal tapi pujilah Tuhan, menurut sunaedesis tidak bisa, tetapi dalam rangka etika/moral tetap bangun hubungan dengan sesama, tetap pujilah Tuhan karena Dia baik.

Bagaimana kondisi/keadaan hidup Daud sampai Dia berkata kepada kardia-nya (pikiran), dia perintahkan kepada suneidesis-nya (manusia batiniah) pujilah Tuhan? Kapan Daud perintahkan pikiran dan batin untuk memuji Tuhan? Ketika kondisi jiwa Daud sedang tertekan dan gelisah. Mazmur 42:7, 12; Mazmur 43:5. Beberapa kali ini diulang berarti Daud memang dalam keadaan tertekan karena memang ada fakta/realita. Daud datang dan memainkan kecapi saat raja Saul dihinggapi roh jahat namun beberapa kali raja Saul berikhtiar hendak membunuh Daud dengan tombak. Ketika Daud sekalipun disusahkan kardia-nya, suneidesis-nya Daud tetap mengambil pilihan keputusan tetap memuji Tuhan. Tuhan kemudian memberikan gelar kepada Daud (Kisah Para Rasul 13:22): ... Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku. Hati = kardia/pikiran; jadi pertimbangan Allah menurut logika bukan menurut emosi. Bukti logisnya Tuhan ketika Tuhan ciptakan jagad raya, bintang-bintang beredar pada garis lintangnya dan tidak bertabrakan. Maukah kita berkenan di hati Tuhan?

2. Membangun hubungan dengan sesama.

...dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah (Yakobus 3:9). Ayub 1:20 - Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah. Latar belakang ayat ini, pada hari yang sama semua kekayaan Ayub habis (ada yang dijarah, ada yang terbakar karena tiba-tiba turun api yang menghanguskan), pada hari yang sama pula rumahnya roboh oleh topan badai, ketujuh anak laki-laki dan ketiga anak perempuannya mati. Ayub, dia mengoyakkan jubahnya, mencukur rambutnya sebagai tanda dia sedih lalu ia sujud dan menyembah Tuhan. Ayub 1:21, secara kardia tidak masuk akal, manusia batiniahnya luka, kecewa tapi ia sujud dan menyembah Tuhan tapi ayat 22 memberi catatan dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.

Lalu datang keempat sahabat Ayub, ketiga sahabatnya yaitu Zofar, Elifas, Bildad memberikan nasihat yang tidak baik --membelokkan kebesaran Tuhan-- (Ayub 42:7), hanya Elihu sahabat Ayub yang masih muda yang memberikan nasihat yang benar kepada Ayub. Karena perkataan ketiga sahabat Ayub, Ayub sempat terjebak mengutuki hari kelahirannya tapi dengan cepat ia sadar, datang dan mohon ampun kepada Tuhan. Apa kata Tuhan dan apa yang Tuhan percayakan kepada Ayub ketika Ayub bisa mengendalikan kardia (pikiran yang logis) dan suneidesis-nya (suara hati, batiniahnya)? Karena lidah Ayub, ia tetap pakai untuk eulogeō --waktu senang dan waktu menderita ia tetap bercerita Tuhan itu baik-- maka Tuhan berkata tentang Ayub: “...dan baiklah hamba-Ku Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannyalah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub." (Ayub 42:8). Ayub tetap bisa membangun hubungan dengan Tuhan dan dengan sesama.

Pakailah lidah pada waktu senang untuk memuji Tuhan dan untuk menghormati sesama, ketika susah pun pakai lidah untuk menghormati Tuhan dan tetap baik terhadap orang lain sekalipun hati kita terluka. Matius 5:8, jaga baik-baik kardia dan suneidesis terhadap sesama maupun terhadap Tuhan, maka kita akan melihat Tuhan. Kejadian 28:12-15, Tuhan akan berdiri di samping kita, Ia akan beserta kita kalau kita tetap menggunakan lidah untuk membangun hubungan baik dengan Tuhan maupun dengan sesama.

Amin.

 
 

Jadwal Ibadah Minggu

06:00  Kebaktian Minggu Pagi
09:30  Kebaktian Minggu Siang
18:00  Kebaktian Minggu Malam

Doa Pagi setiap hari
05.00 - 06.00 Sesi I
07.00 - 08.00 Sesi II

 

Sekilas

GPdI Church on The Way

Jl. S. Parman 20 A
Temanggung, Indonesia
56214
Telp : +62-293-491231

Gembala Sidang :

Pdt. Frans Z. Assa

 

 

 

 
 
Joomla 1.5 Templates by Joomlashack